Masih tentang film "Keramat"...!!!!
Dari segi sinematografi, kalau ditinjau dari genre analysis (*alasan utama pake teori ini karena lumayan tahu dikit teori ini dari teori-teori lainnya. Hehhe..) saya sangat merasakan kesan “horror” yang ada di dalam film ini. Ada lima elemen dalam genre analysis, yaitu repertoire of elements, yang meliputi:
1. Narasi
– cerita
Dalam film ini, cerita yang dimuat
menjadi suatu yang sangat menentukan dari karakter film "horror" yang menjadi
genre film ini. Dengan mengangkat cerita yang kental dengan kebudayaan
masyarakat, terutama suku Jawa, dan mengenai mitos-mitos yang ada di sekitar
daerah Yogyakarta (dimana lokasi film tersebut diambil), orang akan terbawa
dengan cerita di dalam film tersebut. Apalagi masyarakat banyak yang masih
takut dengan hal-hal gaib yang banyak muncul pada adegan di film “Keramat” ini. Dari segi cerita yang mengangkat tentang kerasukan, orang yang hilang secara mistis atau dalam bahasa Jawa sering disebut dengan istilah "kalap", menjadi hal yang sering ada dalam cerita horor di Indonesia...(untuk sinopsis cerita baca saja postinganku sebelumnya..)
2. Karakter
– karakteristik dari masing-masing pemeran
Saya mengacungi jempol untuk para pemeran
dalam film “Keramat” ini. Terutama yang paling saya anggap ‘keren’ adalah
karakter dari Migi (perempuan yang kerasukan dan dibawa kea lam gaib). Karakter dia yang cenderung diam, tetapi kemampuan dia dalam mengekspresikan tentang seorang yang kerasukan dan menjadi inti dari cerita ini, dia memerankannya dengan WOW.. (*dapet banget pokoknya). Kemudaian adalah si Sadha (Arrgghh..!!! *tereak histeris karena dia ganteng dan
so calm) - yup.. dia adalah asisten dari
sutradara songong nan jutek -
karakter dia yang tenang, kalem dan selalu menjadi penengah, serta sabar
menghadapi teriakan boss nya, bisa dibilang akan menjadikannya seorang ‘super
hero’. Yah.. masih banyak lagi karakter yang ada di film ini, seperti sang sutradara yang galak dan karakter-karakter lainnya (silakan ditonton filmnya sendiri
yaaa…). Tetapi saya sendiri masih agak bingung dengan pembagian masing-masing karakter ini.. siapa yang antagonis, protagonis, trigonis.. Yang jelas....karakter hantu akan selalu menjadi tokoh yang bisa disebut jahat (antagonis).
3. Setting
– pengambilan lokasi, waktu.
Dalam film “Keramat” ini, pengambilan waktu dan
tempat sangat tepat. Di daerah Yogyakarta dimana kebudayaan masih kental, masih
menjunjung nilai adat serta kepercayaan yang berbau mistis menjadi daya tarik
tersendiri dari film ini. Apalagi ditambah dengan pencahayaan yang minim,
pengambilan waktu yang mayoritas pada malam hari, tentu sangat membantu dalam
menguatkan kesan “horror” dalam film ini. Malam hari menjadi hal yang
berhubungan erat dengan rasa takut yang muncul. Dengan minimnya cahaya
pada malam hari itulah yang menjadi salah satu penyebab munculnya rasa takut
tersebut. Selain itu tempat yang diambil, seperti rumah tua, hutan belantara,
pantai Parangtritis (yang terkenal tentang kerajaan Ratu Pantai Selatan dan
sering ada korban hilang di tempat tersebut) tentu tidak kalah berperan dalam memunculkan
kesan “horror” dalam film ini.
4. Ikonografi
– hal-hal yang menjadi cirri khas dari sebuah genre film (dalam film ini
“horror” tentunya)
Waaahhh.. kalau sudah membicarakan
masalah ikon “horror” yang ada di dalam film ini pasti akan banyak sekali.. Ikon-ikon
tersebut antara lain adalah (1) sosok hantu – di Negara Indonesia ini, ‘hantu’
memang menjadi sosok yang sangat ditakuti oleh masyarakat. Sosok hantu sering
dikaitkan dengan hal-hal mistis yang terjadi di sekitar kita. Dan hal itu
merupakan hal yang sangat menakutkan bagi masyarakat Indonesia. Dan jika kita
membiarakan mengenai film “horror” di Indonesia, tentu saja sosok hantu tidak
akan pernah bias lepas dari dalamnya; (2) rumah tua – tempat menginap yang ditempati oleh mereka memang terlihat seperti bangunan yang sudah lama, dilihat dari pintunya dan model bangunan joglo tersebut; (3) bunga melati – bunga yang wangi sepanjang
hari..yang menjadi lambang kesucian ini juga bisa menjadi hal yang merujuk pada
hal-hal mistis lho.. Jika orang
tiba-tiba mencium wangi bunga melati, pasti mereka akan banyak yang bilang “ada setan
lewat”, hal ini bisa dijadikan sebuah ikon khusus yang memperkuat kesan bahwa film tersebut masuk dalam genre “horror”; (4)
gelap/malam – “setan/hantu muncul pada malam hari”, pasti kita sering mendengar
kata-kata itu dari orang di sekeliling kita. Film dengan genre “horror” sebagian besar akan memilih waktu di malam hari/saat hari sudah mulai gelap; Sebenarnya masih
banyak lagi ikon-ikon horror yang ada di film ini…tapi aku wis ngantuk… Silakan
tonton dan cari sendiri yaaa…
5. Style
(format) – dalam sebuah genre film pasti ada suatu format tertentu sehingga
orang akan dengan mudah mengasumsikan film tersebut adalah film “horror”.
Adduuuhhhh….kalo ngomong masalah format susah
untuk menjelaskannya… (*atau memang akunya yang gak tahu ya?). Yang jelas…
dalam film dengan genre “horror” akan memakai tekhnik pencahayaan minim
(low-key). Hal ini dilakukan untuk menangkap kesan “horror” atau menakutkan
dari film tersebut. Untuk camera shot
… saya tidak bias bicara banyak.. maaf.. (*karena tidak begitu menguasai*
Hahahha..). Yang jelas dalam film “Keramat” ini..yang bikin aku teriak adalah
ketika tiba-tiba saja ditampilkan sosok hantu pocong dan
hantu orang tua. (ren)
Itu jika
dilihat dari sisi repertoire of elements (genre analysis) dari film “Keramat” secara sederhana dan berantakan.. Mau melanjutkan secara jelas.. Ntar aku dikirain sedang nulis skripsi.. Hahahhaa...



